Teknologi direct-to-device (D2D) kini menjadi sorotan utama dalam industri telekomunikasi global. Inovasi ini memungkinkan perangkat seperti smartphone terhubung langsung ke satelit tanpa bantuan BTS tradisional.
Mengenal Teknologi Direct-to-Device (D2D)
Secara sederhana, D2D adalah metode komunikasi langsung antara perangkat pengguna dengan konstelasi satelit di orbit. Teknologi ini menghilangkan ketergantungan pada menara seluler di daratan yang seringkali terkendala geografis.
Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), Rusdianto Yuli Hermansyah, menjelaskan bahwa D2D terbagi menjadi dua kategori utama. Pertama adalah koneksi langsung ke ponsel (direct-to-cell) dan kedua adalah koneksi langsung ke perangkat sensor atau IoT.
Kategori Utama Teknologi D2D
Berikut adalah perbedaan mendasar antara model operasional teknologi D2D yang saat ini sedang dikaji:
| Fitur | Model Transparan | Model Regeneratif |
|---|---|---|
| Cara Kerja | Satelit bertindak sebagai pengulang sinyal (transmisi) | Satelit berfungsi layaknya BTS dengan jaringan inti |
| Ketergantungan | Bergantung penuh pada jaringan seluler di bumi | Memiliki kemampuan pemrosesan data mandiri |
| Status di RI | Opsi yang paling memungkinkan saat ini | Memerlukan investasi infrastruktur lebih besar |
Tantangan Regulasi dan Kedaulatan Data di 2026
Implementasi teknologi ini di Indonesia masih menghadapi tantangan regulasi yang cukup kompleks. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) saat ini sedang menyusun kerangka aturan operasional dan spektrum frekuensi.
Aspek kedaulatan digital menjadi poin krusial bagi pemerintah dan pelaku industri. ASSI menekankan bahwa data pengguna harus tetap landing di Indonesia, terlepas dari siapa pemilik infrastruktur satelitnya.
Langkah Strategis Menjaga Kedaulatan Digital
- Mendorong lokalisasi data agar tetap berada dalam yurisdiksi Indonesia.
- Memastikan pengawasan ketat terhadap penggunaan spektrum Mobile Satellite Service (MSS).
- Mempersiapkan regulasi yang sinkron dengan standar International Telecommunication Union (ITU) yang diprediksi matang pada 2027 atau 2028.
- Mengedukasi masyarakat mengenai keamanan data dalam penggunaan layanan berbasis satelit.
Mengapa D2D Menjadi Tren Global Saat Ini?
Kebutuhan akan layanan Positioning, Navigation, and Timing (PNT) meningkat tajam akibat ketegangan geopolitik global. Banyak negara kini berlomba membangun sistem navigasi satelit mandiri sebagai alternatif GPS.
Selain itu, persaingan antara perusahaan besar seperti Starlink, Amazon, dan pemain dari China memicu akselerasi pengembangan satelit LEO (Low Earth Orbit). Indonesia harus sigap merespons tren ini agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain yang berdaulat.
Kesimpulan
Teknologi direct-to-device menawarkan peluang besar untuk menghadirkan konektivitas di seluruh wilayah Indonesia tanpa perlu infrastruktur BTS konvensional. Meski potensi teknisnya sangat menjanjikan, kedaulatan data dan regulasi yang matang menjadi syarat mutlak dalam pengimplementasiannya di masa depan.