Strategi PHR Jaga Produksi Blok Rokan dari Ancaman Natural Decline

Menghadapi Tantangan Produksi di Lapangan Tua

Wilayah Kerja (WK) Rokan merupakan salah satu lapangan minyak tertua dan terbesar di Indonesia yang kini berusia lebih dari 70 tahun. Pada tahun 2026 ini, tantangan utama yang dihadapi adalah natural decline atau penurunan produksi secara alamiah yang tidak terelakkan.

Penurunan ini terjadi secara agresif di lapangan mature, dengan estimasi laju penurunan mencapai 11% hingga belasan persen setiap tahunnya. Jika tidak segera diatasi, produksi migas di wilayah ini bisa terjun bebas dan mengancam ketahanan energi nasional.

Jurus PHR Menahan Laju Penurunan Produksi

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menerapkan strategi "berlari cepat" untuk melawan fenomena penurunan alamiah tersebut. Strategi utama yang dijalankan adalah pengeboran masif yang melibatkan ratusan sumur baru setiap tahunnya.

General Manager Zona Rokan, Andre Wijanarko, mengibaratkan kondisi ini seperti berlari di atas eskalator yang bergerak turun dengan cepat. Berikut adalah langkah teknis yang dilakukan PHR untuk menjaga stabilitas produksi:

  • Melakukan pengeboran masif dengan target 400 hingga 500 sumur baru setiap tahunnya.
  • Penerapan teknologi tepat guna untuk mengoptimalkan setiap sumur yang ada.
  • Koordinasi intensif dengan SKK Migas guna memastikan seluruh program kerja berjalan sesuai standar.
  • Peningkatan efisiensi operasional guna menekan risiko pada skema Gross Split.

Keandalan SDM dan Standar Keselamatan

Keberhasilan menjaga produksi di kisaran 150.000 hingga 160.000 barel minyak per hari (BOPD) bukan hanya soal teknologi. PHR menempatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan standar keselamatan (HSSE) sebagai fondasi utama operasional.

Baca Juga  Update BLT Kesra Rp900.000 April 2026: Status Penyaluran dan Info Terkini

Setiap aktivitas pengeboran wajib mematuhi protokol keselamatan tanpa pengecualian sedikit pun. Selain itu, PHR juga berkomitmen memberdayakan pengusaha lokal Riau dalam mendukung ekosistem operasional di lapangan.

Perbandingan Kondisi Lapangan Migas

Tabel di bawah ini merangkum perbedaan antara lapangan baru dan lapangan mature seperti Blok Rokan:

Fitur Lapangan Baru Lapangan Mature (Rokan)
Laju Penurunan Rendah Agresif (11%+)
Kebutuhan Pengeboran Eksplorasi Pengeboran Masif (Infill)
Fokus Utama Penemuan Cadangan Optimalisasi & Efisiensi
Risiko Geologis Belum Teruji Terpetakan dengan Jelas

Kesimpulan

Langkah PHR dalam melakukan pengeboran masif terbukti efektif menahan laju penurunan produksi di Blok Rokan. Komitmen terhadap keselamatan kerja dan pemberdayaan mitra lokal menjadi kunci keberlanjutan operasional di tahun 2026.

Upaya ini dipastikan akan terus dipacu agar produksi migas nasional tetap terjaga. Dengan sinergi antara teknologi, SDM, dan standar keselamatan, PHR optimistis dapat terus menopang ketahanan energi Indonesia.

Agoy Safutra adalah jurnalis di selfd.id yang fokus menyajikan berita faktual dan informasi aktual. aktif menulis isu publik, teknologi, dan perkembangan terkini dengan pendekatan informatif.