Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Hari Ini
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (9/4/2026). Rupiah diprediksi berada pada rentang Rp17.010 hingga Rp17.040 per dolar AS.
Sebelumnya, pada Rabu (8/4/2026), mata uang Garuda berhasil menguat 0,92% ke level Rp15.338 per dolar AS. Penguatan ini sejalan dengan melemahnya indeks dolar AS sebesar 0,71% ke posisi 98,8.
Perbandingan Mata Uang Asia terhadap Dolar AS
Pada penutupan perdagangan kemarin, sejumlah mata uang di kawasan Asia menunjukkan kinerja yang bervariasi. Berikut adalah data perbandingan penguatan mata uang terhadap dolar AS:
| Mata Uang | Persentase Penguatan |
|---|---|
| Won Korea Selatan | 1,44% |
| Baht Thailand | 1,46% |
| Ringgit Malaysia | 1,34% |
| Peso Filipina | 1,32% |
| Yen Jepang | 0,86% |
| Dolar Singapura | 0,59% |
| Yuan China | 0,47% |
| Dolar Hong Kong | 0,04% |
Pengaruh Geopolitik Global terhadap Pasar
Sentimen utama yang memengaruhi pergerakan mata uang saat ini datang dari keputusan Presiden AS Donald Trump. Trump menyetujui gencatan senjata dalam konflik dengan Iran selama dua minggu ke depan.
Keputusan ini diambil setelah AS merasa tujuan militer intinya telah tercapai. Pengumuman tersebut meredam kekhawatiran pasar akan eskalasi besar yang sebelumnya sempat memicu ketegangan global.
Detail Gencatan Senjata AS-Iran
Gencatan senjata ini ditengahi oleh Pakistan sebagai upaya diplomatik terakhir. Kesepakatan tersebut bergantung pada jaminan Iran untuk membuka kembali Selat Hormus secara aman bagi jalur perdagangan minyak global.
Sebagai informasi, Selat Hormus merupakan jalur vital bagi sekitar 20% aliran minyak dunia. Iran menyatakan kesediaan bersyarat untuk mengurangi eskalasi selama periode gencatan senjata berlangsung.
Kinerja APBN dan Respon Pasar Domestik
Di sisi domestik, pasar merespons positif data realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun atau meningkat 10,5% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Realisasi ini setara dengan 18,2% dari target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp3,15 kuadriliun. Capaian ini didorong oleh kinerja penerimaan pajak yang tumbuh kuat sepanjang triwulan I/2026.
Komponen Penerimaan Perpajakan
Kinerja penerimaan pajak yang konsisten menjadi tulang punggung pendapatan negara tahun ini. Berikut rinciannya:
- Total penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun.
- Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 14,3% yoy.
- Penerimaan pajak berkontribusi sebesar Rp394,8 triliun.
- Sektor kepabeanan dan cukai menyumbang Rp67,9 triliun.
Secara keseluruhan, stabilitas nilai tukar rupiah ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi sentimen geopolitik internasional dan kekuatan fundamental ekonomi domestik. Investor diharapkan tetap memantau perkembangan kebijakan pemerintah dan dinamika global yang terjadi saat ini.