Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan, telah tiba. Umat Muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa, menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Waktu berbuka puasa, saat adzan Maghrib berkumandang, menjadi momen yang sangat dinantikan. Selain menikmati hidangan lezat setelah seharian berpuasa, terdapat adab dan sunnah yang dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah, salah satunya adalah membaca doa buka puasa.
Di Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, terdapat dua organisasi Islam besar yang memiliki pengaruh signifikan, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Kedua organisasi ini memiliki perbedaan dalam beberapa aspek, termasuk dalam bacaan doa buka puasa. Meskipun berbeda, keduanya berlandaskan pada hadis-hadis shahih dan bertujuan untuk mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai doa buka puasa Ramadhan, khususnya perbedaan versi antara Muhammadiyah dan NU. Selain itu, akan dibahas pula mengenai adab yang dianjurkan saat berbuka puasa, waktu yang tepat untuk membaca doa, serta sumber-sumber terpercaya yang menjadi landasan dalam pengamalan doa buka puasa.
Doa Buka Puasa: Momen Syukur dan Harapan
Doa buka puasa bukan sekadar rangkaian kata-kata yang diucapkan. Lebih dari itu, doa ini merupakan ungkapan syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan, yaitu kemampuan untuk menjalankan ibadah puasa selama sehari penuh. Doa juga menjadi permohonan agar puasa yang telah dijalankan diterima dan mendapatkan pahala yang berlimpah.
Membaca doa buka puasa juga merupakan bentuk penghormatan terhadap sunnah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW selalu membaca doa saat berbuka puasa, dan sebagai umatnya, kita dianjurkan untuk mengikuti jejak beliau.
Perbedaan Doa Buka Puasa Muhammadiyah dan NU
Meskipun memiliki tujuan yang sama, yaitu mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW, Muhammadiyah dan NU memiliki perbedaan dalam bacaan doa buka puasa. Perbedaan ini didasarkan pada interpretasi dan pemilihan hadis-hadis shahih yang menjadi landasan.
1. Doa Buka Puasa Versi Muhammadiyah
Muhammadiyah, melalui Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, menganjurkan doa buka puasa yang berlandaskan hadis shahih riwayat Abu Dawud dari Ibnu Umar r.a. Berikut adalah bacaan doa buka puasa yang dianjurkan oleh Muhammadiyah:
Latin: Dzahabazh-zhama’u wabtallatil-‘uruuqu wa tsabatal-ajru insya Allah
Artinya: "Hilanglah rasa haus, dan basahlah urat-urat (badan), dan insya Allah mendapatkan pahala."
Doa ini bersumber dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW ketika berbuka puasa membaca doa tersebut. Hadis ini dianggap shahih dan menjadi landasan bagi Muhammadiyah dalam menentukan bacaan doa buka puasa.
2. Doa Buka Puasa Versi NU (Nahdlatul Ulama)
NU memiliki beberapa versi doa buka puasa yang dijelaskan dalam hadis-hadis yang berbeda. Dalam kitab Fath al-Mu’in dijelaskan bahwa ketentuan doa berbuka puasa yang baik adalah membaca doa sesuai dengan lafal doa dalam hadis riwayat sahabat Mu’adz bin Zuhrah. Kemudian dalam lafal doa dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ditambahkan ketika seseorang berbuka dengan menggunakan air.
Berikut adalah beberapa versi doa buka puasa yang umum diamalkan oleh umat Islam yang mengikuti NU:
-
Doa Buka Puasa Riwayat Mu’adz bin Zuhrah:
Latin: Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu
Artinya: "Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa, dan atas rezeki-Mu aku berbuka."
-
Doa Buka Puasa Riwayat Abdullah bin ‘Umar:
Doa ini sama dengan doa yang dianjurkan oleh Muhammadiyah:
Latin: Dzahabazh-zhama’u wabtallatil-‘uruuqu wa tsabatal-ajru insya Allah
Artinya: "Hilanglah rasa haus, dan basahlah urat-urat (badan), dan insya Allah mendapatkan pahala."
-
Doa Buka Puasa Versi NU Lengkap (Gabungan):
Di Indonesia, seringkali umat Islam menggabungkan kedua doa di atas menjadi satu bacaan doa buka puasa yang lebih lengkap:
Latin: Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu dzahabadh-dhama’u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaallah ta’ala
Artinya: "Ya Allah, untuk-Mulah aku berpuasa, atas rezeki-Mulah aku berbuka. Telah sirna rasa dahaga, urat-urat telah basah, dan semoga pahala telah ditetapkan, insya Allah."
Mengapa Ada Perbedaan?
Perbedaan dalam bacaan doa buka puasa antara Muhammadiyah dan NU bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan. Perbedaan ini merupakan hasil dari ijtihad (penalaran) para ulama dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Keduanya memiliki dasar yang kuat dalam hadis-hadis shahih, dan yang terpenting adalah niat yang tulus untuk beribadah kepada Allah SWT.
Adab Berbuka Puasa yang Dianjurkan
Selain membaca doa buka puasa, terdapat adab-adab lain yang dianjurkan saat berbuka puasa untuk menyempurnakan ibadah:
- Menyegerakan Berbuka: Rasulullah SAW menganjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa ketika waktu Maghrib telah tiba. Hal ini menunjukkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT dan mengikuti sunnah Nabi.
- Berbuka dengan yang Manis: Rasulullah SAW biasanya berbuka puasa dengan kurma atau air. Makanan manis dapat membantu mengembalikan energi tubuh setelah seharian berpuasa.
- Membaca Basmalah: Sebelum memulai makan atau minum, dianjurkan untuk membaca basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
- Tidak Berlebihan dalam Makan: Meskipun lapar dan haus, usahakan untuk tidak berlebihan dalam makan saat berbuka puasa. Makanlah secukupnya agar tidak memberatkan tubuh dan tetap bisa menjalankan ibadah dengan baik.
- Bersyukur kepada Allah SWT: Setelah selesai berbuka puasa, jangan lupa untuk mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan.
- Berbagi dengan Sesama: Jika memungkinkan, berbagi makanan atau minuman dengan orang lain, terutama dengan mereka yang membutuhkan. Hal ini akan menambah keberkahan dalam ibadah puasa kita.
- Melaksanakan Shalat Maghrib: Setelah berbuka puasa, segera laksanakan shalat Maghrib sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Waktu yang Tepat untuk Membaca Doa Buka Puasa
Terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu yang tepat untuk membaca doa buka puasa. Sebagian ulama berpendapat bahwa doa sebaiknya dibaca sebelum berbuka puasa, sebagai bentuk permohonan agar puasa diterima dan mendapatkan pahala. Namun, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa doa sebaiknya dibaca setelah berbuka puasa, sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan.
Menurut NU, membaca doa berbuka puasa sebaiknya dilakukan setelah selesai berbuka, hal ini dimaksudkan agar kita memperoleh kesunnahan yang sempurna (kamal as-sunnah) dalam membaca doa. Sama seperti NU, Muhammadiyah juga menganjurkan doa buka puasa dibaca setelah berbuka puasa.
Kesimpulan
Doa buka puasa merupakan bagian penting dari ibadah puasa Ramadhan. Meskipun terdapat perbedaan versi antara Muhammadiyah dan NU, yang terpenting adalah niat yang tulus untuk beribadah kepada Allah SWT dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Selain membaca doa, perhatikan pula adab-adab yang dianjurkan saat berbuka puasa untuk menyempurnakan ibadah kita. Semoga Allah SWT menerima puasa kita dan memberikan pahala yang berlimpah. Aamiin.
Sumber Referensi:
- https://nu.or.id/ramadhan/doa-buka-puasa-dibaca-sesudah-berbuka-atau-sebelumnya-NKzEr
- https://suaraaisyiyah.id/memahami-doa-buka-puasa-menurut-muhammadiyah/
- https://muhammadiyah.or.id/2022/04/doa-buka-puasa-berdasarkan-hadis-sahih/
Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kita mengenai doa buka puasa Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa!