Jakarta, CNN Indonesia – Perayaan Imlek, bukan sekadar tradisi dan ritual keagamaan bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Lebih dari itu, momentum ini telah menjelma menjadi katalisator ekonomi yang signifikan, memberikan dampak positif bagi berbagai sektor industri dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Proyeksi terbaru dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menunjukkan bahwa libur panjang Imlek 2026 berpotensi menghasilkan perputaran uang hingga mencapai Rp9 triliun, sebuah angka fantastis yang mencerminkan betapa besar pengaruh perayaan ini terhadap perekonomian.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengungkapkan bahwa penetapan libur nasional selama dua hari, yakni 16-17 Februari 2026, menjadi faktor kunci yang mendorong peningkatan aktivitas ekonomi selama periode tersebut. Masyarakat, baik dari kalangan Tionghoa maupun non-Tionghoa, memanfaatkan momen libur ini untuk bepergian, berwisata, menikmati kuliner khas, dan bahkan melakukan ziarah menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Kombinasi faktor-faktor ini secara signifikan meningkatkan konsumsi rumah tangga dan produktivitas perekonomian secara keseluruhan pada kuartal I-2026.
"Perkiraan kami, potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek tahun 2026 akan mencapai angka yang cukup besar, yaitu sekitar Rp9 triliun lebih," ujar Sarman dalam keterangan tertulisnya. Pernyataan ini menggarisbawahi optimisme Kadin terhadap dampak positif Imlek terhadap perekonomian.
Analisis Kadin menunjukkan bahwa lonjakan permintaan terjadi di hampir semua sektor. Sektor transportasi udara menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya. Jumlah penumpang yang bepergian dari Bandara Soekarno-Hatta diperkirakan mencapai 1.744.820 orang, dengan tujuan utama kota-kota besar seperti Medan, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Pontianak, Bali, dan Palembang. Peningkatan ini menunjukkan minat masyarakat untuk bepergian dan menghabiskan waktu liburan di berbagai destinasi di Indonesia.
"Jika kita asumsikan rata-rata setiap penumpang mengeluarkan Rp1 juta untuk tiket penerbangan, maka total transaksi tiket pesawat saja sudah mencapai Rp1,74 triliun," jelas Sarman. Angka ini menunjukkan betapa besar kontribusi sektor transportasi udara terhadap perputaran uang selama libur Imlek.
Selain transportasi udara, sektor transportasi darat juga mengalami peningkatan signifikan. Jumlah penumpang kereta api jarak jauh menuju berbagai kota di Pulau Jawa diperkirakan hampir menembus angka 1 juta orang. Sementara itu, kereta cepat Whoosh juga mencatat kenaikan jumlah penumpang sekitar 25 persen, atau mencapai 25 ribu orang selama periode libur Imlek.
"Dengan potensi 1 juta penumpang kereta api dan rata-rata harga tiket Rp150 ribu, maka transaksi kereta api mencapai Rp150 miliar. Sementara itu, tiket kereta api Whoosh, dengan perkiraan 25 ribu penumpang dan harga Rp250 ribu, diperkirakan menghasilkan transaksi sebesar Rp6,25 miliar," papar Sarman. Angka-angka ini menunjukkan bahwa transportasi darat juga memegang peranan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat selama libur Imlek.
Sektor pariwisata dan industri turunannya juga turut merasakan dampak positif dari perayaan Imlek. Pusat-pusat destinasi wisata, pusat perbelanjaan, ritel, kuliner, logistik, hingga penjual pernak-pernik Imlek diproyeksikan mengalami peningkatan omzet yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa Imlek tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga pada sektor-sektor lain yang terkait dengan konsumsi dan hiburan.
Permintaan akan buah-buahan khas Imlek, seperti jeruk mandarin, apel, delima, nanas, buah naga merah, hingga ikan bandeng, kue keranjang, dan minuman khas Tionghoa diperkirakan akan mengalami kenaikan sekitar 30 persen selama perayaan. Hal ini mencerminkan tradisi dan budaya yang kuat dalam perayaan Imlek, di mana makanan dan minuman memiliki peran penting dalam merayakan kebersamaan dan keberuntungan.
Lebih lanjut, Sarman menghitung bahwa dari total populasi warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang mencapai sekitar 11,25 juta orang, atau setara dengan 2.812.500 keluarga (dengan asumsi rata-rata 4 orang per keluarga), potensi perputaran uang dari belanja perayaan Imlek sangatlah besar. Jika setiap keluarga membelanjakan rata-rata Rp1 juta untuk perayaan Imlek, maka potensi perputaran uang mencapai sekitar Rp2,8 triliun.
"Selain itu, kami memperkirakan sekitar 3.369.820 orang akan melakukan perjalanan wisata atau ziarah dan membelanjakan rata-rata Rp500 ribu. Hal ini berpotensi menghasilkan perputaran uang sekitar Rp1,68 triliun," tambahnya. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas wisata dan ziarah juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian selama libur Imlek.
Di sektor ritel, mengacu pada target transaksi perayaan Imlek hingga Ramadan dan Idulfitri sebesar Rp53,38 triliun, Sarman memperkirakan bahwa sekitar 5 persen dari transaksi tersebut terjadi selama libur Imlek, atau setara dengan Rp2,66 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa sektor ritel juga menjadi salah satu penggerak utama ekonomi selama periode ini.
Dengan demikian, Kadin memperkirakan bahwa potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 mencapai angka yang fantastis, yaitu sekitar Rp9.067.480.000.000. Angka ini belum termasuk biaya tol, belanja Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kendaraan pribadi, serta perjalanan kapal laut dan penyeberangan, yang jika ditambahkan, akan semakin meningkatkan total perputaran uang selama periode tersebut.
Sarman meyakini bahwa besarnya perputaran uang ini akan secara signifikan mengerek konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan adanya momentum Imlek, Kadin optimistis bahwa target pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,5 persen dapat tercapai.
"Kami optimis target ini bisa tercapai karena setelah perayaan dan libur Imlek, akan berlanjut bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, yang selama ini menjadi puncak konsumsi rumah tangga terbesar di Indonesia," pungkasnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Imlek hanyalah awal dari serangkaian momentum ekonomi yang akan terus berlanjut hingga perayaan Idulfitri, yang diharapkan dapat semakin memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Secara keseluruhan, perayaan Imlek bukan hanya sekadar tradisi dan budaya, tetapi juga menjadi momentum penting bagi perekonomian Indonesia. Dengan potensi perputaran uang yang mencapai triliunan rupiah, Imlek memberikan dampak positif bagi berbagai sektor industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk terus mendukung dan memanfaatkan momentum ini guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan perekonomian Indonesia.