Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) kini tengah menjadi sorotan publik di tahun 2026. Lembaga ini baru saja menyampaikan rekomendasi strategis kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memperbaiki kinerja kepolisian.
Fokus Reformasi pada Aspek Kultural
Sekretaris KPRP, Jenderal (Purn) Ahmad Dofiri, menyatakan terdapat tiga aspek utama yang menjadi poin perbaikan. Aspek tersebut meliputi persoalan struktural, instrumental, dan kultural.
Dari ketiganya, masalah kultural menjadi rekomendasi yang paling disorot. KPRP menemukan adanya sembilan perilaku negatif yang berpotensi menghambat profesionalisme korps Bhayangkara.
Sembilan Perilaku Negatif di Polri
Berdasarkan serap aspirasi masyarakat, KPRP mengidentifikasi perilaku yang perlu segera dihilangkan. Berikut adalah daftar perilaku negatif tersebut:
- Budaya kekerasan.
- Tindakan koruptif.
- Fanatisme berlebihan.
- Budaya "militeristik".
- Budaya impunitas atau kebal hukum.
- Silent blue code (kode etik diam untuk melindungi kesalahan rekan).
- Orientasi pada target angka semata.
Strategi Perbaikan Melalui Pendidikan
KPRP menekankan bahwa langkah konkret untuk mengatasi masalah ini dimulai dari lembaga pendidikan. Evaluasi pendidikan Polri dianggap krusial untuk membentuk karakter anggota sebelum mereka terjun ke lapangan.
Perbandingan Pendekatan Reformasi
Berikut adalah perbandingan antara pendekatan lama dan rencana paradigma baru Polri:
| Aspek | Pendekatan Lama | Target Paradigma Baru |
|---|---|---|
| Karakter | Cenderung militeristik | Humanis dan merangkul |
| Sikap | Tertutup (silent blue code) | Transparan dan protagonis |
| Tujuan Kerja | Fokus pada target angka | Profesional dan melayani |
Penguatan Filosofi Hidup Anggota
Untuk menciptakan polisi yang lebih baik, KPRP menyarankan penguatan filosofi Tribrata dan Catur Prasetya. Hal ini bertujuan agar setiap anggota Polri memiliki pedoman hidup yang kuat saat bertugas.
Langkah Reformasi di Lembaga Pendidikan
- Evaluasi Kurikulum: Mengintegrasikan nilai humanis ke dalam materi pendidikan.
- Pencegahan Dini: Memastikan perilaku negatif tidak muncul sejak masa rekrutmen.
- Penguatan Paradigma: Menanamkan filosofi kerja yang profesional sebagai polisi sipil.
- Output Protagonis: Mencetak anggota yang mampu merangkul masyarakat dengan pendekatan humanis.
Dengan langkah-langkah ini, Polri diharapkan dapat bertransformasi menjadi institusi yang lebih dipercaya oleh masyarakat di tahun 2026. Fokus pada pendidikan diharapkan menjadi kunci utama dalam memutus rantai budaya negatif di masa depan.