Jakarta, CNN Indonesia – Lonjakan harga cabai rawit merah yang mencapai Rp150 ribu per kilogram di pasar-pasar tradisional telah memicu respons cepat dari pemerintah. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengumumkan serangkaian langkah strategis yang akan diambil untuk menstabilkan harga komoditas penting ini, khususnya menjelang bulan Ramadan dan perayaan Lebaran 2026. Koordinasi intensif dengan para pengusaha dan asosiasi cabai menjadi kunci utama dalam upaya menekan harga dan memastikan ketersediaan pasokan yang memadai bagi masyarakat.
Kenaikan harga cabai menjadi perhatian serius pemerintah, meskipun secara umum stok pangan di pasar masih dianggap mencukupi. Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa cabai menjadi salah satu komoditas yang mengalami koreksi harga signifikan. "Memang ada beberapa (harga pangan) yang menjadi koreksi kami adalah yang pertama adalah cabai. Cabai ini agak naik karena musim penghujan yang biasanya hanya Rp50 ribu per kg ini naik menjadi Rp60 ribu," ujarnya saat melakukan tinjauan di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, pada Jumat (20/2).
Kondisi cuaca ekstrem, terutama musim penghujan yang berkepanjangan, diidentifikasi sebagai faktor utama yang mengganggu pasokan cabai dari para distributor. Hal ini berdampak langsung pada kenaikan harga, terutama untuk cabai rawit merah yang mengalami lonjakan paling signifikan dibandingkan jenis cabai lainnya. "Dalam satu minggu terakhir ini hujan terus, sehingga harga agak naik, para distributor cabai kesulitan menyiapkan cabai. Untuk cabai rawit merah juga mengalami kenaikan," jelas Rizal.
Menyadari dampak yang ditimbulkan oleh kenaikan harga cabai terhadap daya beli masyarakat, Bulog bertekad untuk mengambil langkah-langkah konkret guna menstabilkan harga di pasaran. Koordinasi dengan para pelaku usaha dan asosiasi cabai menjadi prioritas utama. "Kami akan koordinasikan dengan pengusaha-pengusaha cabai, asosiasi cabai agar harganya diturunkan, mudah-mudahan kembali standar menghadapi Lebaran nanti," tegas Rizal.
Upaya stabilisasi harga cabai ini melibatkan serangkaian strategi komprehensif. Pertama, Bulog akan melakukan pemetaan mendalam terhadap rantai pasok cabai, mulai dari petani hingga konsumen akhir. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi titik-titik kritis yang menyebabkan distorsi harga dan menghambat distribusi yang efisien. Dengan memahami akar permasalahan, Bulog dapat merumuskan solusi yang tepat sasaran.
Kedua, Bulog akan menjalin kemitraan strategis dengan para petani cabai di sentra-sentra produksi. Melalui kemitraan ini, Bulog akan memberikan dukungan teknis dan finansial kepada petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen. Selain itu, Bulog juga akan membantu petani dalam memasarkan hasil panen mereka dengan harga yang wajar dan menguntungkan.
Ketiga, Bulog akan memperkuat infrastruktur logistik untuk memastikan distribusi cabai yang lancar dan efisien. Hal ini meliputi peningkatan kapasitas penyimpanan, perbaikan jaringan transportasi, dan penerapan teknologi informasi untuk memantau pergerakan cabai dari petani hingga konsumen. Dengan infrastruktur logistik yang kuat, Bulog dapat mengurangi biaya distribusi dan meminimalkan risiko kerusakan cabai selama pengiriman.
Keempat, Bulog akan melakukan operasi pasar secara berkala untuk menekan harga cabai di pasar-pasar tradisional. Dalam operasi pasar ini, Bulog akan menjual cabai dengan harga yang lebih murah dari harga pasar, sehingga dapat menjadi acuan bagi pedagang lain untuk menurunkan harga. Operasi pasar akan dilakukan secara selektif di wilayah-wilayah yang mengalami kenaikan harga cabai yang signifikan.
Kelima, Bulog akan meningkatkan pengawasan terhadap praktik-praktik spekulasi dan penimbunan cabai yang dapat menyebabkan distorsi harga. Bulog akan bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menindak tegas para pelaku yang terbukti melakukan praktik-praktik ilegal tersebut. Dengan pengawasan yang ketat, Bulog dapat mencegah terjadinya praktik-praktik yang merugikan masyarakat.
Berdasarkan hasil pemantauan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, harga cabai rawit merah telah mencapai Rp140 ribu per kg, melonjak tajam dari kisaran Rp70 ribu-Rp90 ribu per kg sebelumnya. Selain itu, cabai merah juga mengalami kenaikan harga dari Rp60 ribu menjadi Rp80 ribu per kg, sementara cabai rawit jenis lain dijual sekitar Rp130 ribu per kg dari sebelumnya Rp100 ribu per kg. Adapun cabai keriting meningkat dari Rp50 ribu menjadi Rp60 ribu per kg.
Kenaikan harga cabai juga terpantau di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Di pasar tersebut, harga cabai rawit bahkan mencapai Rp150 ribu per kg, naik sekitar Rp60 ribu dari harga sebelumnya Rp90 ribu per kg. Rizal menyebut kenaikan terjadi akibat musim hujan dan banjir yang membuat pasokan dari daerah produksi berkurang. Sementara itu, harga cabai merah di Pasar Jatinegara relatif lebih stabil di kisaran Rp50 ribu per kg meski pasokan disebut menipis.
Menanggapi situasi ini, para pedagang cabai di pasar-pasar tradisional mengeluhkan penurunan omzet penjualan akibat kenaikan harga yang signifikan. Banyak konsumen yang mengurangi pembelian cabai atau beralih ke bahan pengganti yang lebih murah. Para pedagang berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah-langkah yang efektif untuk menstabilkan harga cabai agar mereka dapat kembali berjualan dengan нормаl.
Para ahli ekonomi juga memberikan pandangan mereka terkait lonjakan harga cabai ini. Menurut mereka, kenaikan harga cabai merupakan fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari cuaca ekstrem, gangguan pasokan, hingga praktik-praktik spekulasi. Mereka menekankan pentingnya koordinasi yang baik antara pemerintah, petani, pedagang, dan konsumen untuk mengatasi masalah ini secara komprehensif.
Selain itu, para ahli juga menyarankan pemerintah untuk melakukan diversifikasi sumber pasokan cabai. Dengan tidak hanya bergantung pada satu atau dua daerah produksi, pemerintah dapat mengurangi risiko gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem atau bencana alam. Diversifikasi sumber pasokan juga dapat mendorong persaingan yang sehat antar daerah produksi, sehingga dapat menekan harga cabai.
Dalam jangka panjang, para ahli juga mendorong pemerintah untuk mengembangkan teknologi pertanian yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem. Dengan teknologi ini, petani dapat tetap menghasilkan cabai berkualitas meskipun menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu. Pengembangan teknologi pertanian juga dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian, sehingga dapat menekan biaya produksi cabai.
Upaya stabilisasi harga cabai ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Konsumen diharapkan dapat bijak dalam berbelanja dan tidak panik membeli cabai dalam jumlah yang berlebihan. Pedagang diharapkan dapat menjual cabai dengan harga yang wajar dan tidak melakukan praktik-praktik spekulasi yang merugikan konsumen.
Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah, petani, pedagang, dan konsumen, diharapkan harga cabai dapat segera stabil dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau perkembangan harga cabai dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas harga pangan di Indonesia.
Sebagai penutup, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan kembali komitmen Bulog untuk terus berupaya menstabilkan harga cabai dan memastikan ketersediaan pasokan yang memadai bagi masyarakat, khususnya menjelang bulan Ramadan dan perayaan Lebaran 2026. Bulog akan terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait dan mengambil langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
(del/sfr)