Jakarta, Indonesia – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah mengumumkan serangkaian langkah strategis dan persiapan infrastruktur yang komprehensif untuk menghadapi lonjakan arus mudik Lebaran 1447 Hijriah (2026 Masehi). Proyeksi menunjukkan bahwa sekitar 143 juta orang diperkirakan akan melakukan perjalanan mudik tahun ini, dengan sebagian besar menggunakan transportasi darat. Antisipasi ini mendorong Kemenhub untuk mengambil tindakan proaktif guna memastikan kelancaran, keamanan, dan kenyamanan perjalanan bagi para pemudik.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, mengungkapkan bahwa Jawa Barat diperkirakan akan menjadi provinsi asal pemudik terbesar, dengan estimasi pergerakan mencapai 30,97 juta orang atau sekitar 21,52% dari total pemudik. Sementara itu, Jawa Tengah diprediksi akan menjadi tujuan mudik paling populer, dengan perkiraan kedatangan sekitar 38,71 juta orang atau 26,90% dari total pemudik.
"Dengan angka perkiraan yang signifikan ini, kami menyadari pentingnya persiapan matang di semua sektor transportasi darat," ujar Aan dalam keterangan resminya. "Kami berupaya untuk meminimalisir potensi gangguan dan memastikan perjalanan mudik yang aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat."
Persiapan Infrastruktur dan Sarana Transportasi Darat
Kemenhub telah menyiapkan infrastruktur dan sarana transportasi darat yang memadai untuk menghadapi lonjakan pemudik. Persiapan ini mencakup:
-
Terminal: Sebanyak 177 terminal bus, terdiri dari 115 terminal Tipe A dan 62 terminal Tipe B, telah disiapkan untuk melayani arus mudik dan balik. Terminal-terminal ini akan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, seperti ruang tunggu yang nyaman, toilet bersih, dan posko kesehatan.
-
Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB): 48 UPPKB fungsional akan diubah menjadi rest area sementara bagi para pemudik. Rest area ini akan menyediakan fasilitas istirahat, toilet, mushola, dan tempat makan, sehingga pemudik dapat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
-
Armada Bus: Sebanyak 31.345 armada bus telah disiapkan, terdiri dari 11.639 unit bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), 63 unit bus Angkutan Lintas Batas Negara, 17.850 unit bus Angkutan Pariwisata, dan 1.793 unit bus Angkutan Jarak Antar Provinsi (AJAP). Seluruh armada bus ini akan menjalani pemeriksaan ketat untuk memastikan kondisinya laik jalan dan memenuhi standar keselamatan.
-
Penyeberangan: Di sektor penyeberangan, Kemenhub telah menyiapkan 72 unit dermaga, 254 unit kapal penyeberangan, 29 pelabuhan penyeberangan, dan 15 lintas penyeberangan. Kapasitas dan frekuensi penyeberangan akan ditingkatkan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan kendaraan.
Kerjasama dengan Pihak Terkait dan Pemanfaatan Masjid sebagai Rest Area
Selain menyiapkan infrastruktur dan sarana transportasi, Kemenhub juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terkait, termasuk kepolisian dan pemerintah daerah, untuk mendukung kelancaran arus mudik. Salah satu bentuk kerjasama ini adalah pemanfaatan masjid-masjid di sepanjang jalur mudik sebagai rest area sementara.
"Kami berkoordinasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah untuk menjadikan beberapa masjid menjadi rest area di Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, Semarang, Purworejo, dan Kebumen," jelas Aan. "Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan fasilitas istirahat yang nyaman dan aman bagi para pemudik."
Inspeksi Keselamatan (Rampcheck) Armada Bus
Kemenhub akan melakukan inspeksi keselamatan (rampcheck) secara intensif terhadap seluruh armada bus yang akan digunakan untuk angkutan Lebaran. Rampcheck akan dimulai pada tanggal 23 Februari hingga 29 Maret 2026.
"Rampcheck bertujuan untuk menjamin kendaraan yang beroperasi telah memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta memastikan aspek keselamatan penumpang," tegas Aan. "Kami tidak akan mentolerir kendaraan yang tidak memenuhi standar keselamatan."
Rampcheck akan dilakukan di pool bus sebagai tahapan awal pengawasan sebelum bus diberangkatkan ke terminal. Selain itu, rampcheck juga akan dilakukan secara acak di terminal dan di sepanjang jalur mudik. Fokus rampcheck adalah pada aspek-aspek keselamatan seperti kondisi ban, rem, lampu, dan sistem kemudi.
Koordinasi Lintas Sektoral dan Manajemen Lalu Lintas
Untuk mendukung mobilisasi masyarakat, Kemenhub berkoordinasi dengan Korlantas Polri dan Kementerian PUPR untuk menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang mencakup berbagai aspek manajemen lalu lintas. SKB ini akan mengatur pembatasan operasional angkutan barang, rekayasa lalu lintas (one way, contra flow, ganjil-genap), dan pengaturan lalu lintas menuju dan di area pelabuhan penyeberangan utama (Merak, Bakauheni, Ketapang, Gilimanuk).
"Saat ini kami tengah proses sosialisasi kepada masyarakat terkait kebijakan-kebijakan yang tercantum dalam SKB," ujar Aan. "Kami berharap masyarakat dapat memahami dan mematuhi kebijakan ini demi kelancaran arus mudik."
Pembatasan operasional angkutan barang dilakukan untuk melindungi keselamatan jutaan masyarakat yang mudik dan memastikan perjalanan berlangsung lancar, aman, dan nyaman. Kebijakan ini bukan bertujuan untuk membatasi atau melarang usaha, tetapi untuk mengatur agar mobilitas masyarakat dan distribusi barang sama-sama bisa berjalan dengan aman dan lancar selama arus mudik Lebaran.
Program Mudik Gratis
Kemenhub juga akan menyelenggarakan program mudik gratis untuk membantu masyarakat yang kurang mampu agar dapat merayakan Lebaran di kampung halaman. Program ini akan menyediakan 401 bus dengan kapasitas 15.834 penumpang dan 8 truk untuk mengangkut 240 sepeda motor.
"Program mudik gratis ini akan melayani 34 kota tujuan mudik di provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera," jelas Aan. "Pendaftaran akan dimulai pada tanggal 1 Maret 2026."
Tinjauan Jalur Tol Fungsional Jogja-Bawen dan Terminal Tingkir Salatiga
Dalam rangka persiapan menghadapi arus mudik Lebaran, Dirjen Aan juga melakukan peninjauan ke jalur tol fungsional Jogja-Bawen Seksi 6 yang rencananya akan difungsionalkan pada masa angkutan Lebaran mendatang.
"Saat ini jalur tol dari Exit Bawen menuju Exit Ambarawa yang panjangnya sekitar 4,9 kilometer masih dalam proses pembangunan. Secara fisik sudah 90 persen lebih penyelesaian proyeknya," jelas Aan. "Jalur ini diharapkan dapat memangkas waktu perjalanan masyarakat sekitar 20-30 menit untuk yang ke arah Magelang atau Muntilan."
Meskipun demikian, Aan menekankan bahwa aspek keselamatan adalah prioritas utama sebelum ruas tol ini difungsikan. Uji laik fungsi akan dilakukan pada tanggal 8 Maret mendatang dengan melibatkan pihak Kepolisian, Bina Marga, Ditjen Hubdat, dan pengelola jalan tol.
Setelah meninjau jalur tol, Dirjen Aan juga mengunjungi Terminal Tipe A Tingkir Salatiga untuk mengevaluasi kesiapannya menghadapi angkutan Lebaran 2026. Aan melakukan inspeksi keselamatan pada bus-bus yang ada di terminal tersebut.
"Terminal Tingkir merupakan salah satu terminal yang cukup baik dan siap untuk angkutan lebaran," puji Aan. "Terminal ini juga sudah menerapkan fungsi mix used dengan baik, yang artinya terminal tidak hanya menjadi tempat naik dan turun penumpang, melainkan juga digunakan untuk kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat."
Dengan persiapan yang matang dan koordinasi yang baik antara berbagai pihak terkait, Kemenhub optimis dapat menghadapi lonjakan arus mudik Lebaran 2026 dengan lancar, aman, dan nyaman. Masyarakat diimbau untuk selalu mematuhi peraturan lalu lintas dan mengikuti arahan dari petugas di lapangan demi keselamatan bersama.