Antisipasi Lonjakan Konsumsi Ikan di Bulan Ramadan dan Idulfitri 2026: KKP Jamin Ketersediaan Pasokan dan Kualitas Produk

Jakarta, CNN Indonesia – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi lonjakan konsumsi ikan yang diprediksi akan terjadi selama bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri tahun 2026. Berdasarkan proyeksi, konsumsi ikan masyarakat diperkirakan akan meningkat signifikan, berkisar antara 10 hingga 20 persen dibandingkan bulan-bulan biasa. KKP berupaya memastikan ketersediaan pasokan yang memadai serta menjaga stabilitas harga di pasar, sehingga masyarakat dapat menikmati hidangan ikan yang sehat dan terjangkau selama bulan suci dan hari raya.

Peningkatan permintaan ikan selama Ramadan dan Idulfitri merupakan fenomena tahunan yang telah menjadi tradisi di Indonesia. Ikan menjadi salah satu sumber protein hewani yang populer dan banyak dikonsumsi sebagai bagian dari menu sahur, berbuka puasa, maupun hidangan perayaan Idulfitri. KKP menyadari pentingnya mengantisipasi lonjakan permintaan ini agar tidak terjadi kelangkaan pasokan atau kenaikan harga yang tidak terkendali.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Machmud, menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi ikan selama Ramadan merupakan pola yang berulang setiap tahunnya. Hal ini didorong oleh peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat secara umum, serta preferensi terhadap ikan sebagai pilihan makanan yang sehat dan bergizi.

"Berdasarkan survei yang kami lakukan, kenaikan konsumsi ikan selama Ramadan dan Idulfitri diperkirakan mencapai 10 hingga 20 persen dibandingkan bulan-bulan biasa. Jika kebutuhan ikan pada periode Januari hingga Maret mencapai sekitar 1,94 juta ton, maka pada bulan Ramadan dan Idulfitri, kemungkinan kebutuhan akan meningkat menjadi sekitar 700 ribuan ton," ungkap Machmud dalam konferensi pers yang diadakan di Kantor KKP, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/2).

Machmud menambahkan bahwa kenaikan harga ikan menjelang Ramadan umumnya dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan penawaran. Apabila pasokan terbatas sementara permintaan meningkat, harga cenderung naik. Namun demikian, KKP berupaya menjaga stabilitas harga dengan memastikan pasokan ikan tetap mencukupi dan mendistribusikannya secara merata ke seluruh wilayah Indonesia.

Baca Juga  Alarm Ekonomi Indonesia: Peringatan MSCI dan Moody's Membuka Tabir Masalah Struktural dan Tata Kelola

Lebih lanjut, Machmud menjelaskan bahwa harga ikan budidaya seperti lele dan nila cenderung lebih stabil dibandingkan ikan tangkap. Harga lele berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp26 ribu per kilogram, sedangkan harga nila sekitar Rp28 ribu per kilogram. Fluktuasi harga lebih sering terjadi pada ikan tangkap, yang sangat dipengaruhi oleh faktor musim dan hasil tangkapan. KKP terus berupaya meningkatkan produksi ikan budidaya untuk mengurangi ketergantungan pada ikan tangkap dan menjaga stabilitas harga secara keseluruhan.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, TB Haeru Rahayu, menyampaikan bahwa produksi perikanan budidaya pada awal tahun 2026 diproyeksikan akan tetap tumbuh positif, dengan rata-rata peningkatan sekitar 19,09 persen. Beberapa komoditas unggulan seperti kerapu, kakap, lobster, dan udang diperkirakan akan mengalami peningkatan produksi yang signifikan.

"Sejumlah komoditas seperti kerapu meningkat 11,32 persen, kakap dan lobster naik sekitar 12,27 persen, serta udang tumbuh 3,63 persen. Produksi ikan nila juga meningkat 10,24 persen," papar Haeru.

Meskipun demikian, Haeru mengakui bahwa produksi ikan mas mengalami penurunan sekitar 4,11 persen akibat tingginya curah hujan sepanjang tahun 2025 yang memengaruhi budidaya di sejumlah wilayah. Curah hujan yang ekstrem menyebabkan banjir dan gangguan lainnya yang berdampak negatif terhadap produktivitas budidaya ikan mas.

"Ikan mas menjadi penurunan minus 4,11 persen. Catatan kenapa ikan mas ini sedikit minus, karena kami sounding di lapangan, ini salah satunya disebabkan jumlah hujan yang cukup tinggi pada 2025," jelas Haeru.

Haeru menambahkan bahwa curah hujan ekstrem di beberapa daerah, termasuk wilayah sentra budidaya seperti Karawang, memengaruhi produktivitas ikan mas. Meskipun demikian, komoditas lain seperti nila dinilai lebih tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan. KKP terus berupaya memberikan pendampingan dan bantuan teknis kepada para pembudidaya ikan mas agar dapat mengatasi dampak negatif dari perubahan iklim dan meningkatkan produktivitasnya.

Baca Juga  Q-RICH Allo Bank: Revolusi Cashback QRIS yang Bikin Ketagihan Belanja

Secara keseluruhan, KKP menilai bahwa kondisi produksi perikanan secara nasional tetap mencukupi kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri. Dari sisi harga, kenaikan komoditas perikanan diperkirakan berada pada kisaran 0,25 hingga 1,39 persen, sehingga dinilai tidak akan memicu tekanan inflasi yang signifikan. KKP terus memantau perkembangan harga di pasar dan mengambil langkah-langkah antisipasi jika diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan.

Selain memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga, KKP juga memberikan perhatian serius terhadap kualitas dan keamanan produk perikanan yang beredar di pasar. Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP), Ishartini, menegaskan bahwa produk ikan yang beredar di pasar harus memenuhi standar keamanan pangan dan tidak mengandung bahan berbahaya seperti formalin.

"Selama (pengawasan) yang sudah kami lakukan, memang tidak ada produk-produk yang ditemukan mengandung formalin," kata Ishartini.

Ishartini menjelaskan bahwa KKP secara rutin melakukan pengawasan dan sosialisasi kepada pedagang serta pemasok agar tidak menggunakan bahan berbahaya dalam proses pengolahan dan penyimpanan ikan. Jika ditemukan pelanggaran, produk akan langsung ditarik dari peredaran dan penjual dapat dikenai sanksi tegas.

"Sudah sering kami di KKP ini melakukan sosialisasi kepada para pedagang, para supplier dan sebagainya untuk tidak boleh lagi menggunakan hal itu," tegasnya.

Ishartini menambahkan bahwa KKP pernah menarik produk ikan dari pasar di Jawa Tengah setelah ditemukan pelanggaran. Bahkan, izin penjualan dapat dicabut apabila pelaku usaha tidak mematuhi ketentuan keamanan pangan.

"Memang apabila ini ditemukan, pernah terjadi di satu tempat ya di Jawa Tengah, kami komunikasi, koordinasi dengan pemda sebagai penanggung jawab dari pasar tradisional, produk itu ditarik dan tidak boleh lagi diperdagangkan," jelas Ishartini.

Baca Juga  Era Baru Perdagangan: Indonesia dan Amerika Serikat Resmikan Perjanjian Timbal Balik, Menyongsong Hubungan Ekonomi yang Lebih Erat

KKP berkomitmen untuk terus meningkatkan pengawasan dan pengendalian mutu produk perikanan, serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memilih ikan yang segar, sehat, dan aman untuk dikonsumsi. Dengan demikian, masyarakat dapat menikmati hidangan ikan yang lezat dan bergizi tanpa perlu khawatir akan risiko kesehatan.

Dalam menghadapi lonjakan konsumsi ikan selama Ramadan dan Idulfitri 2026, KKP telah menyiapkan sejumlah strategi dan program untuk memastikan ketersediaan pasokan, menjaga stabilitas harga, dan meningkatkan kualitas produk perikanan. Beberapa program yang akan dilaksanakan antara lain:

  • Peningkatan Produksi Perikanan: KKP akan terus mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya dan perikanan tangkap melalui berbagai program dan bantuan teknis kepada para pelaku usaha perikanan.
  • Distribusi yang Efisien: KKP akan memastikan distribusi ikan yang efisien dan merata ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah terpencil, agar masyarakat dapat mengakses ikan dengan mudah dan terjangkau.
  • Stabilisasi Harga: KKP akan melakukan intervensi pasar jika diperlukan untuk menjaga stabilitas harga ikan dan mencegah terjadinya lonjakan harga yang tidak terkendali.
  • Pengawasan Mutu dan Keamanan Pangan: KKP akan meningkatkan pengawasan mutu dan keamanan pangan produk perikanan, serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara memilih ikan yang segar, sehat, dan aman untuk dikonsumsi.
  • Kerjasama dengan Pemerintah Daerah: KKP akan terus menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah dalam upaya menjaga ketersediaan pasokan, stabilitas harga, dan kualitas produk perikanan di masing-masing wilayah.

Dengan berbagai upaya yang telah dan akan terus dilakukan, KKP optimis dapat memenuhi kebutuhan ikan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri 2026, serta menjaga stabilitas harga dan kualitas produk perikanan. KKP mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung program-program pemerintah dalam memajukan sektor perikanan Indonesia dan menjadikan ikan sebagai sumber protein hewani yang terjangkau dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)

Agoy Safutra adalah jurnalis di selfd.id yang fokus menyajikan berita faktual dan informasi aktual. aktif menulis isu publik, teknologi, dan perkembangan terkini dengan pendekatan informatif.