Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kembali memberikan peringatan serius mengenai kondisi bumi di masa depan. Data terbaru menunjukkan ancaman nyata kenaikan permukaan air laut yang berpotensi memicu krisis global hingga akhir abad ini.
Prediksi Kenaikan Permukaan Laut di Tahun 2100
Berdasarkan laporan terkini per tahun 2026, permukaan air laut diprediksi akan naik antara 0,9 hingga 1,8 meter pada tahun 2100. Pemanasan global menjadi pemicu utama yang mempercepat proses pencairan es di kutub dan ekspansi termal air laut.
Ratusan juta orang yang tinggal di wilayah pesisir dunia kini menghadapi risiko kehilangan tempat tinggal. Fenomena ini bukan sekadar simulasi, melainkan ancaman nyata yang menuntut perhatian dunia.
Jakarta dan Daftar Kota Terancam Tenggelam
Jakarta menjadi salah satu wilayah dengan sorotan khusus karena laju penurunan tanah mencapai 17 cm per tahun. Kombinasi antara kenaikan air laut dan penurunan tanah membuat ibu kota Indonesia ini sangat rentan terhadap banjir.
Berikut adalah daftar kota besar dunia lainnya yang menghadapi risiko serupa:
- Alexandria, Mesir: Sekitar 30% wilayah terancam tenggelam pada tahun 2050.
- Miami, Amerika Serikat: Sebanyak 60% wilayah diprediksi terendam pada 2060.
- Lagos, Nigeria: Mengalami penurunan tanah lebih dari 7,6 cm per tahun.
- Dhaka, Bangladesh: Terus tenggelam sebesar 1,3 cm setiap tahunnya.
- Bangkok, Thailand: Garis pantai terus mundur lebih dari 1 km per tahun.
- Manila, Filipina: Penurunan tanah mencapai 10 cm per tahun akibat ekstraksi air tanah.
Perbandingan Risiko Kota Besar
Untuk memahami skala ancaman ini, berikut adalah tabel perbandingan singkat tingkat kerentanan kota-kota pesisir:
| Lokasi | Penyebab Utama | Prediksi Dampak |
|---|---|---|
| Jakarta | Penurunan tanah & 13 sungai | Relokasi ibu kota ke IKN |
| Miami | Ketinggian rendah (1,8m) | 60% wilayah terancam 2060 |
| Alexandria | Kenaikan air laut | 1,5 juta orang mengungsi |
| Manila | Ekstraksi air tanah | Penurunan 10cm/tahun |
Langkah Mitigasi dan Antisipasi
Menghadapi tantangan ini, berbagai negara mulai mengambil langkah strategis untuk meminimalisir dampak krisis. Pemerintah Indonesia sendiri telah merespons kondisi ini dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) sejak 2022.
Beberapa tips praktis dalam menghadapi ancaman kenaikan air laut bagi masyarakat pesisir:
- Meningkatkan kesadaran akan manajemen ekstraksi air tanah yang berkelanjutan.
- Melakukan restorasi mangrove untuk menahan laju abrasi pantai.
- Mendukung pembangunan infrastruktur pertahanan banjir yang modern.
- Mengikuti kebijakan mitigasi pemerintah terkait tata ruang wilayah pesisir.
Kondisi ini merupakan alarm bagi dunia untuk lebih serius menangani perubahan iklim. Tanpa langkah mitigasi yang masif, banyak kota besar di dunia akan menghadapi ancaman eksistensial yang serius di masa depan.