Airlangga Sebut RI Lebih Untung dari India di Deal Dagang dengan AS

Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Di tengah dinamika geopolitik global yang bergejolak dan ketidakpastian ekonomi yang membayangi, Indonesia terus berupaya memperkuat posisinya di panggung internasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam forum ekonomi bergengsi yang diselenggarakan oleh CNN Indonesia, baru-baru ini mengungkapkan optimisme dan strategi pemerintah dalam menghadapi tantangan global serta memanfaatkan peluang yang ada. Dalam pidatonya yang berjudul "Global in Flux and The Road Ahead" di Indonesia Economic Forum 2026, Airlangga menyoroti pencapaian signifikan Indonesia dalam perjanjian tarif dengan Amerika Serikat (AS), serta langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Salah satu poin utama yang ditekankan oleh Airlangga adalah keberhasilan Indonesia dalam mencapai kesepakatan yang lebih menguntungkan dibandingkan India dalam Agreement on Reciprocal Tariff (ART) dengan AS. Perjanjian ini, yang ditandatangani pada 19 Februari lalu, menjadi bukti nyata upaya pemerintah dalam meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia berhasil memperoleh sekitar 1.900 pos tarif dengan bea masuk 0 persen, sebuah pencapaian yang signifikan dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki perjanjian serupa dengan AS. Jika dirata-ratakan, tarif yang dikenakan kepada Indonesia secara keseluruhan hanya berkisar antara 6 hingga 6,5 persen.

"Indonesia mendapat better deal dibandingkan India, karena kita ada 1.900 pos tarif yang dapat 0 persen. Kalau diambil rata-rata, seluruh tarif kita hanya sekitar 6 sampai 6,5 persen," tegas Airlangga. Pernyataan ini menggarisbawahi negosiasi yang efektif dan strategis yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam mencapai kesepakatan yang menguntungkan.

Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan bahwa beberapa komoditas yang diberikan tarif 0 persen oleh Indonesia kepada AS pada dasarnya memang sudah memiliki tarif 0 persen sebelumnya, seperti gandum dan kedelai. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah telah mempertimbangkan dengan cermat kepentingan nasional dan memilih komoditas yang tidak akan merugikan perekonomian dalam negeri. Selain itu, impor energi senilai US$15 miliar per tahun yang disebutnya lebih bersifat pengalihan sumber pasokan, mengindikasikan upaya diversifikasi sumber energi untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Baca Juga  Kamera iPhone 17 Pro 48 MP Triple Sensor yang Bisa Gantikan DSLR Kamu

Momentum penandatanganan ART juga dinilai sangat tepat oleh Airlangga, karena dilakukan sebelum adanya putusan Mahkamah Agung AS yang turut memengaruhi kebijakan tarif. Ia menyebut bahwa Indonesia menjadi negara terakhir yang menandatangani perjanjian sebelum dinamika hukum di AS berubah, sehingga memastikan keuntungan maksimal bagi Indonesia.

Selain membahas perjanjian tarif dengan AS, Airlangga juga menyinggung pertemuan antara Presiden RI dan Presiden AS yang berlangsung di luar agenda resmi, namun menghasilkan komitmen strategis kedua negara. Pertemuan ini menunjukkan hubungan bilateral yang kuat antara Indonesia dan AS, serta potensi kerja sama yang lebih erat di masa depan. "Judul kerja samanya menuju golden age Indonesia dan Amerika," kata Airlangga, menandakan optimisme terhadap masa depan hubungan kedua negara.

Antisipasi Risiko Geopolitik dan Penguatan Ketahanan Energi

Di tengah optimisme terhadap kerja sama dengan AS, pemerintah juga tidak mengabaikan risiko eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak global. Airlangga menyebut bahwa harga minyak West Texas Intermediate (WTI) saat ini berada di level US$73 per barel, sedikit di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar US$70 per barel, namun masih relatif terkendali.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah mendorong percepatan realisasi nota kesepahaman antara Pertamina dan sejumlah perusahaan migas asal AS seperti Chevron dan ExxonMobil untuk memperkuat diversifikasi pasokan energi. Langkah ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber pasokan energi dan menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri.

Fondasi Ekonomi yang Kuat dan Stimulus untuk Pertumbuhan

Airlangga meyakinkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah ketidakpastian global. Konsumsi rumah tangga berkontribusi 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), rasio utang di bawah 30 persen, dan cadangan devisa mencapai US$154,6 miliar. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang solid dan mampu menahan guncangan eksternal.

Baca Juga  Sinopsis Film Penerbangan Terakhir (Last Flight): Teror Mencekam di Atas Awan yang Wajib Ditonton

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini minimal 5,5 persen, didorong oleh stimulus Ramadan dan Idulfitri seperti diskon transportasi, bantuan pangan untuk 35,04 juta keluarga, serta pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). Stimulus ini diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di awal tahun.

"Bantalan ekonomi kita relatif kuat. Dengan berbagai stimulus ini, kita harapkan kuartal pertama bisa kita genjot," ujar Airlangga. Pernyataan ini menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap kemampuan ekonomi Indonesia untuk tumbuh dan berkembang di tengah tantangan global.

Strategi Jangka Menengah: Ketahanan Energi, Hilirisasi, dan Deregulasi Struktural

Airlangga juga memaparkan strategi jangka menengah pemerintah yang difokuskan pada ketahanan energi, hilirisasi, deregulasi struktural, serta percepatan berbagai perjanjian dagang internasional guna memperkuat posisi Indonesia di panggung global.

  • Ketahanan Energi: Pemerintah berupaya meningkatkan ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi, pengembangan energi terbarukan, dan peningkatan efisiensi energi.
  • Hilirisasi: Hilirisasi industri menjadi fokus utama untuk meningkatkan nilai tambah komoditas Indonesia dan menciptakan lapangan kerja baru.
  • Deregulasi Struktural: Pemerintah terus melakukan deregulasi struktural untuk mempermudah investasi, meningkatkan daya saing, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
  • Perjanjian Dagang Internasional: Percepatan berbagai perjanjian dagang internasional bertujuan untuk memperluas akses pasar bagi produk Indonesia dan meningkatkan perdagangan internasional.

Strategi jangka menengah ini dirancang untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia dan meningkatkan daya saing di pasar global. Dengan fokus pada inovasi, teknologi, dan sumber daya manusia, Indonesia berupaya menjadi negara yang lebih maju dan sejahtera.

Kesimpulan: Optimisme dan Strategi untuk Masa Depan

Pidato Airlangga Hartarto di Indonesia Economic Forum 2026 memberikan gambaran yang jelas tentang optimisme dan strategi pemerintah Indonesia dalam menghadapi tantangan global dan memanfaatkan peluang yang ada. Keberhasilan dalam mencapai kesepakatan yang menguntungkan dengan AS, langkah-langkah mitigasi terhadap risiko geopolitik, fondasi ekonomi yang kuat, dan strategi jangka menengah yang komprehensif menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga  Sambut Ramadan 1447 H dengan Listrik Andal: PLN Tawarkan Diskon Tambah Daya Hingga 50%

Meskipun tantangan global tetap ada, Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh dan berkembang di masa depan. Dengan kerja keras, inovasi, dan kolaborasi, Indonesia dapat mencapai tujuan pembangunan nasional dan menjadi negara yang lebih maju dan sejahtera. Pemerintah terus berupaya untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi. Dengan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, Indonesia dapat mewujudkan visinya untuk menjadi negara yang kuat, mandiri, dan berdaulat di panggung global.

Penting untuk dicatat bahwa keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada pelaksanaan yang efektif dan koordinasi yang baik antara berbagai pihak terkait. Pemerintah perlu terus memantau perkembangan ekonomi global dan menyesuaikan strategi jika diperlukan. Selain itu, partisipasi aktif dari sektor swasta dan masyarakat sipil sangat penting untuk memastikan keberhasilan pembangunan ekonomi Indonesia.

Dengan fondasi yang kuat, strategi yang jelas, dan komitmen yang kuat, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mencapai masa depan yang lebih cerah. Optimisme dan strategi yang diungkapkan oleh Airlangga Hartarto memberikan harapan dan inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk terus bekerja keras dan berkontribusi pada pembangunan bangsa.

Agoy Safutra adalah jurnalis di selfd.id yang fokus menyajikan berita faktual dan informasi aktual. aktif menulis isu publik, teknologi, dan perkembangan terkini dengan pendekatan informatif.